Rabu, 23 November 2016


MOTIVASI BELAJAR



Didalam kelas, seorang guru pasti akan menemukan aneka tingkah dan persoalan yang dihadapi anak didiknya. Dari anak yang sangat rajin belajar, ada yang biasa-biasa saja, bahkan ada yang sama sekali tidak mau belajar. Dalam hal ini, seorang guru harus berperan sebagai seorang motivator bagi anak didiknya yang malas belaja.
Didalam proses belajar mengajar, motivasi menjadi aspek penting yang harus dilakukan oleh guru. Karena, tidak semua siswa dalam semua kelas mempunyai motivasi yang kuat untuk mengikuti jam pelajaran. Siswa yang mempunyai motivasi untuk belajar tentu akan mendapatkan hasil yang berbeda dengan siswa yang tidak mempunyai motivasi kuat untuk belajar. Biasanya siswa yang tidak mempunyai motivasi kuat, maka mereka akan mudah bosan, tidak bersemangat, tidak konsentrasi dan cenderung malas dalam mengikuti materi pelajaran. Dengan demikian, prestasi pun juga akan sulit diraih oleh siswa yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar. Motivasi disini juga bisa menjadi cambuk bagi siswa untuk meningkatkan aktivitas belajarnya.
Jadi pada intinya motivasi sangat penting dalam kegiatan belajar, sebab dengan adanya motivasi maka akan mendorong semangat belajar. Dan sebaliknya, jika kurang adanya motivasi akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar, karena jika seorang siswa yang belajar tanpa adanya motivasi atau kurang motivasinya maka tidak akan berhasil dengan maksimal.
Motivasi itu sendiri merupakan dorongan atau daya penggerak yang ada didalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Sedangkan motivasi belajar berarti daya penggerak dari dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar tersebut serta memberikan arah pada kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki siswa dapat tercapai.
Siswa mau belajar akibat adanya dorongan dari kekuatan mentalnya, kekuatan mental itu sendiri dapat berupa kebutuhan, dorongan dan tujuan.
Kebutuhan terjadi apabila individu merasa ada ketidakseimbangan antara apa yang ia miliki dengan yang ia harapkan. Misalnya: seorang siswa merasa hasil belajarnya rendah, padahal siswa tersebut memiliki buku pelajaran yang lengkap dan siswa tersebut juga merasa memiliki cukup waktu, tetapi ia kurang baik dalam mengatur waktu belajarnya. Waktu belajar yang digunakannya tersebut tidak memadai untuk memperoleh hasil belajar yang baik. Kemudian siswa tersebut berfikir bahwa ia membutuhkan hasil belajar yang baik. Oleh karena itu siswa tersebut mengubah cara-cara belajarnya.
Dorongan merupakan kekuatan mental untuk melakukan kegiatan dalam rangka memenuhi harapan atau untuk mencapai tujuan. Dengan adanya kebutuhan-kebutuhan dalam diri seseorang maka akan menimbulkan dorongan, dan dorongan tersebut sebagai motivasi penggerak utama perilaku atau tingkah laku seseorang untuk mencapai sebuah tujuan. Misalnya: seorang siswa kelas tiga SMA mempunyai harapan untuk dapat diterima sebagai mahasiswa fakultas teknik. Sedangkan siswa tersebut memperoleh hasil belajar rendah pada mata pelajaran kimia, fisika dan matematika. Menyadari hal ini siswa tersebut kemudian mengambil kursus tambahan dan belajar lebih giat. Dan pada hari berikutnya siswa tersebut memperoleh hasil belajar yang baik. Dan ia semakin bersemangat dalam belajarnya.
Dari contoh ini dapat disimpulkan bahwa dari kasus seorang siswa mengambil kursus dan bersemangat dalam belajarnya, menunjukkan siswa tersebut bertujuan lulus UMPTN dan diterima di fakultas teknik. Jadi tujuan disini adalah suatu hal yang ingin dicapai oleh seorang individu. Tujuan sendiri sebenarnya merupakan titik akhir sementara pencapaian kebutuhan. Jika tujuan tercapai maka kebutuhan terpenuhi untuk sementara. Dan jika kebutuhan terpenuhi maka orang menjadi puas dan dorongan mental untuk berbuat terhenti sementara. Misalnya: siswa kelas tiga SMA yang mempunyai keinginan diterima di fakultas teknik. Siswa tersebut sudah belajar giat sejak awal. Dalam belajar ia memiliki tujuan agar hasil belajarnya selalu baik. Dan diakhir semester, ia mendapatkan nilai tergolong baik dan menduduki peringkat atas dikelasnya. Kemudian ia mempergiat belajarnya, sebab menjadi juara kelas bukan tujuan akhir, tetapi hanyalah tujuan sementara. Ia bersemangat untuk menghadapi UMPTN. Dengan ketekunan belajar tersebut ia diterima di fakultas teknik yang terkenal. Sebelum masuk kuliah ia belum giat belajar, karena keinginan masuk ke fakultas teknik telah tercapai. Setelah perkuliahan dimulai siswa tersebut mulai belajar lagi. Dan kini tujuan belajar yang baru baginya  adalah lulus fakultas teknik dan memperoleh pekerjaan di perusahaan terkenal. Untuk lulus fakultas teknik tersebut ia harus lulus ujian semua mata kuliah. Oleh karena itu ia bersemangat belajar untuk menghadapi mata kuliah sejak semester satu. Ia memelihara semangat belajarnya sampai lulus fakultas teknik.
Motivasi sendiri di bagi menjadi dua, yaitu:
1.    Motivasi Intrinsik
Yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri seseorang tanpa adanya unsur paksaan. Contoh: siswa yang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Hal ini disebabkan karena rasa ingin tahunya terhadap materi pelajaran yang diberikan.
2.    Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ini timbul akibat pengaruh dari luar individu, baik karena ajakan, suruhan maupun paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu untuk belajar.
Bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya sangat diperlukan. Dalam hal ini, tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan kegiatan belajar.
Strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar anak didiknya, diantaranya adalah:
1.    Menjelaskan tujuan belajar kepada peserta didik.
2.    Hadiah
3.    Kompetisi/saingan
4.    Pujian
5.    Hukuman
6.    Membangkitkan semangat anak didik untuk giat belajar
7.    Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8.    Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9.    Menggunakan metode yang bervariasi
10.    Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.